Kamis, 28 Agustus 2014

Kenapa Harga BBM Harus Dinaikkan?

JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sudah menjadi negara yang masuk kategori net importir minyak, dimana untuk tahun 2012 diperkirakan kebutuhan dalam negeri setara dengan 1,4 juta barel per hari sedangkan dari produksi dalam negeri hanya sekitar 930 ribu barel per hari dan yang menjadi bagian Negara adalah 586 ribu barel per hari.

Dengan masih adanya impor minyak dari luar, kenaikan harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap keuangan Negara dan sudah menjadi kewajiban Pemerintah untuk melakukan langkah antisipasi terhadap kenaikan tersebut.

Salah satu langkah adalah kenaikan harga BBM. Tanpa kenaikan maka subsidi BBM dapat mencapai sekitar Rp 178 Triliun, dan keseluruhan defisit anggaran Pemerintah menjadi sekitar Rp 250- Rp 300 Triliun (atau berada diatas 3% dari PDB - batas yang diperbolehkan oleh Undang-Undang).

Langkah lain yang dilakukan adalah dengan melakukan penghematan anggaran sebagai upaya untuk mengurangi defisit APBN. Penurunan defisit dengan pemotongan anggaran harus berada pada posisi yang aman, agar tidak terjadi perlambatan ekonomi.

Dalam perkembangan harga BBM di Indonesia dari tahun 1990 s.d. 2011 menunjukan bahwa Pemerintah pernah menerapkan harga BBM Rp 6000 per liter pada tahun 2008 dimana rata-rata harga minyak mentah saat itu masih dibawah harga minyak mentah saat ini. Harga minyak mentah dunia belakangan ini mengalamai kenaikan akibat konflik politik di Timur Tengah.

Kenaikan harga BBM juga memberikan kesempatan kepada pengembangan Bahan Bakar Gas dan energi alternatif lainnya, dan upaya konservasi energi. Selain itu harus digalakan kesadaran dalam hemat konsumsi BBM dan mengurangi ketergantungan kepada BBM.

Penjelasan Perhitungan Subsidi BBM (1)

JAKARTA - Berikut penjelasan Kementerian EDSM terkait isu-isu yang berkembang di media massa terkait biaya LRT, perhitungan pembelian minyak serta penjualan BBM oleh Pertamina, dan subsidi:

Benarkah biaya Lifting, Refinery, and Transportation (LRT) minyak bumi mencapai $10 per barel?

Pernyataan tersebut SALAH, biaya LRT saat ini mencapai $24.1 per barel atau setara dengan Rp 1.364 per liter. Angka tersebut berasal dari biaya pengolahan sebesar $12.8 per barel, serta biaya transportasi dan distribusi $11.3 per barel.

Kenapa Pertamina harus membayar harga ICP padahal minyak milik rakyat sehingga harusnya gratis?

Minyak bagian negara sebesar 586 ribu barel per hari merupakan sumber penerimaan APBN dengan harga ICP. Kebutuhan konsumsi BBM nasional tahun 2012 direncanakan sebesar 1,4 juta bph sehingga masih dibutuhkan impor sebesar 802 ribu barel per hari (265 ribu bph dengan harga ICP dan 537 ribu bph BBM dengan harga MOPS). Sementara itu, biaya pengolahan dan distribusi (LRT) untuk mengolah 1.4 juta barel minyak adalah $24,1 per barel. Sehingga Pertamina harus membayar minyak mentah sesuai dengan ICP.

Kenapa Pertamina harus menjual BBM dengan harga keekonomian (sebesar di atas Rp 8.000/liter)?

Harga dasar BBM dari minyak mentah (berdasarkan ICP $105/bbl) sebesar Rp 5.943/L.Biaya LRT ($24.1/bbl) ekivalen dengan Rp 1394/L. Pajak dan lain-lain sebesar 15% sehingga harga  keekonomian BBM  sebesar Rp 8.400/L.

Berapa subsidi BBM yang harus disediakan?

Definisi subsidi BBM adalah selisih harga keekonomian BBM dengan harga jual Pertamina. Harga BBM saat ini adalah Rp 4.500/L, sedangkan harga keekonomian BBM adalah Rp 8.400/L, sehingga besaran subsidi BBM per liter adalah Rp 3.900/L. Usulan RAPBNP 2012, harga BBM bersubsidi dinaikkan sebesar Rp 1.500/L menjadi Rp 6.000/L. Dengan kenaikan harga BBM bersubsidi  menjadi Rp 6.000/L, besaran subsidi BBM masih sebesar Rp 2.400/L.



Penjelasan Perhitungan Subsidi BBM (2)

JAKARTA – Berikut disampaikan perhitungan harga keekonomian per liter Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mencapai Rp 8.400 per liter:

  1. Harga dasar minyak mentah sebesar kurang lebih Rp 5.940 per liter diperoleh dari Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dikalikan kurs dolar (Rp.9.000) dibagi 159 (faktor pembagi dari barel ke liter).
  2. Harga LRT (Lifting, Refinery, Transportation) sebesar $24.1 per barel atau  Rp 1.360 per liter.
  3. Subtotal dari poin (1) dan (2) mencapai Rp 7.300 per liter.
  4. Ditambah pajak dan lain-lain (15%) sebesar Rp 1.100 per liter, maka total harga keekonomian BBM mencapai Rp 8.400 per liter.

Penjelasan Perhitungan Subsidi BBM (3)

JAKARTA – Ada anggapan yang berkembang bahwa negara menyembunyikan keuntungan Rp 98 triliun atas penjualan BBM.  Pernyataan tersebut TIDAK BENAR.

Tidak ada keuntungan yang disembunyikan karena semua surplus akan menjadi bagian dari pendapatan negara dan dicatat di dalam APBN. Angka tersebut di atas diperoleh apabila crude oil bagian negara yang bernilai Rp 202 triliun digratiskan dan tidak dimasukkan sebagai pendapatan negara di dalam APBN.

Saat ini kita masih mengimpor BBM karena jumlah kebutuhan energi dari minyak setara 1,4 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak bagian negara hanya sebesar 586 ribu barel per hari.

Perlu diketahui, bahwa tidak 100% minyak mentah akan menjadi BBM, sehingga asumsi yang digunakan oleh beberapa pengamat dan politisi yang banyak dikutip media massa TIDAKLAH BENAR.

Jumlah crude yang diimpor untuk diolah di kilang Pertamina sebesar 265 ribu bph dengan harga ICP. Sementara Impor BBM sebesar 537 ribu bph didasarkan pada harga pasar.

Harga ICP sendiri ditetapkan berdasarkan 2 assessment, yaitu RIM (50%) dan PLATTS (50%).

Harga tersebut diputuskan setiap bulan oleh Menteri ESDM berdasarkan usulan Tim Harga sebagai acuan untuk perhitungan penerimaan negara dari minyak, harga jual LNG, dan perpajakan. Sedangkan harga-harga untuk impor crude oil untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri didasarkan pada harga pasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar